Bank menjadi salah satu tempat yang tidak hanya dapat digunakan untuk menyimpan uang namun juga dapat dipergunakan dalam kegiatan pinjam meminjam. Perbankan konvensional memiliki aturan sendiri dalam menjalankan proses kegiatannya yang mengacu pada pemerintah, undang-undang dan ketentuan dari bank tersebut. Akan tetapi, bank syariah yang dijalankan dengan dasar syariat islam memiliki hukum pinjam meminjam dalam Islam yang harus dipatuhi.

Setiap orang yang mampu dan mau untuk meminjamkan sesuatu ke orang lain secara ikhlas maka akan dijanjikan pahala dari Allah SWT. Terdapat hukum pinjam meminjam menurut Islam, yaitu:

  • Hukum pinjam meminjam tersebut sunnah misalnya untuk meminjamkan sepeda ke orang lain yang akan dipergunakan ke pasar.
  • Hukum pinjam meminjam tersebut wajib jika orang yang meminjam sangat butuh pertolongan peminjam.
  • Hukum pinjam meminjam tersebut adalah haram jika digunakan untuk tujuan kemaksiatan.

Dalam Islam, pinjam meminjam atau ‘ariyah memiliki 4 rukun pinjaman yaitu al-‘ariyah (peminjaman), al-mu’ir (orang yang meminjamkan), al-musta’ir atau peminjam, al-mu’ar atau barang yang dipinjamkan dan sirighat atau ungkapan pemberian pinjaman. Selain itu, dalam Islam, terdapat proses yang harus diperhatikan saat meminjam di bank atau lembaga keuangan syariah, yaitu:

  • Adanya ijab qabul yaitu antara yang meminjam dan yang di pinjami.
  • Barang yang dipinjamkan adalah kepunyaan sendiri.
  • Barang yang dipinjamkan tersebut adalah barang yang halal dan tidak rusak jika dimanfaatkan.
  • Meminjamkan dengan hati yang gembira dan riang dan ikhlas.
  • Orang yang meminjamkan harus bersabar untuk menunggu kabar barang tersebut akan dikembalikan.
  • Mempercepat pengembalian jika sudah selesai dibutuhkan.

pinjam meminjam dalam Islam3

Menurut Syafi’i dan Abu Hanifah, pemberi pinjaman boleh untuk menarik kembali barang yang dipinjamkan jika ia menghendaki nya. Namun, sesuai dengan rukun pinjam meminjam dalam Islam, terdapat beberapa ketentuan yaitu, pertama, untuk orang yang meminjamkan, orang tersebut sebaiknya berbuat baik dan tidak merupakan paksaan atau tidak ada yang menghalangi dan benda yang dipinjamkan tersebut adalah benda kepemilikan sendiri dan bukan milik orang lain. Syarat bagi orang yang meminjamkan adalah:

  • Dewasa.
  • Memiliki akal sehat.
  • Tidak memberikan suatu persyaratan ketika meminjamkan barang.

Kedua adalah orang yang meminjam wajib untuk menerima kebaikan tersebut dari pemberi pinjaman sehingga peminjam dapat memperoleh manfaat dari benda ataupun barang yang dipinjamnya dan hanya boleh untuk mengambil manfaat dari barang yang dipinjam tersebut. Orang yang meminjam atau pihak peminjam juga tidak boleh memaksa kehendak mengenai barang yang dipinjam tersebut dan harus segera mengembalikannya ketika sudah selesai dan bukan mengulur-ngulur waktu. Ketiga adalah benda atau barang yang dipinjamkan harus ada manfaatnya dan barang tersebut kekal. Maksudnya kekal adalah barang tersebut tidak akan habis walaupun diambil berkali-kali manfaatnya atau digunakan berkali-kali. Keempat adalah akad.

Jika terjadi perselisihan pendapat antara pihak yang meminjamkan dan pihak yang dipinjamkan mengenai barang tersebut apakah sudah dikembalikan atau belum, maka pihak yang meminjamkan harus dikuatkan dengan adanya sumpah. Sedangkan bagi peminjam, ada kewajiban yang harus dipenuhi berdasarkan pada pinjam meminjam dalam Islamyaitu:

  • Mengembalikan barang yang telah dipinjam kepada pemilik jika sudah selesai untuk digunakan.
  • Jika barang tersebut hilang atau rusak, maka orang yang meminjam nya harus mengganti barang tersebut sesuai dengan yang barang yang dirusak kan.
  • Peminjam wajib untuk menjaga dan merawat barang yang dipinjam tersebut dengan baik selama dalam proses peminjaman.